Refleksi Umrah Dalam Kehidupan

Umrah adalah salah satu proses tarbiyah (pembinaan) yang mengajarkan dan membentuk nilai-nilai luhur dalam kehidupan seorang muslim. Seorang muslim yang cerdas akan berusaha mencermati nilai dan norma tersebut serta berupaya dengan gigih untuk merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Diantara beberapa nilai yang ditanamkan oleh ibadah umrah bagi kaum muslimin adalah :

1. Pertama: Umrah membina kaum muslimin untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam keimanan dan tauhid.

Bagaimana tidak? Kalimat talbiyah yang senantiasa dikumandangkan saat berihram adalah esensi dari tauhid dan inti dari keimanan kepada Allah, kalimat talbiyah memiliki makna yang sangat agung dan akan menggoreskan pengaruh yang sangat dalam bagi yang mencermatinya:

” Labaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wanni’mata laka walmulk, laa syariika laka”.
“Aku memenuhi seruan-Mu Ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu, aku memenuhi seruan-Mu, tidak ada sekutu bagiMu, aku memenuhi seruan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan hanya milikMu demikian juga kekuasaan, tidak ada sekutu bagiMu”.

Inilah makna yang sangat agung bagi kalimat talbiyah yang berkonsekwensi menjadi hamba yang bertauhid secara mutlak dengan melaksanakan segala jenis ibadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

2. Kedua: tawaf merupakan cerminan dari kepatuhandan ketundukan yang total kepada Allah Azza wa Jalla, proses mengitari Ka’bah tujuh kali tanpa mengetahui hikmah dibaliknya merupakan tanda ketaatan dan keimanan kepada Allah.


Hal ini mengajarkan sifat seorang muslim sejati ketika dihadapkan pada perintah dan larangan dari Allah, hendaknya ia patuh dan taat pada perintah dan larangan tersebut kendati tidak mengetahui hikmah dan manfaat dibalik itu semua, Allah berfirman :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka” (QS Al-Ahzab: 36).

3. Ketiga: Putihnya pakaian ihram hendaknya mengingatkan kita akan pentingnya kesucian hati dari kegelapan syirik dan kekelaman amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariah.

Menyadarkan kita akan pentingnya kebersihan lisan dari ucapan kotor dan keji, serta kemurnian akhlak dan sikap kita dari tabiat yang tercela. Selain itu, warna putih merupakan warna kain kafan yang akan menyelimuti kita ketika wafat.

Setinggi apapun jabatan yang disandang, sepanjang apapun pangkat yang disematkan, sebanyak apapun harta yang dikumpulkan, pada akhirnya ia akan diselimuti dengan sehelai kain putih ketika meninggal dunia. Pakaian ihram seharusnya mengkondisikan untuk memperbanyak mengingat kematian yang akan lebih mengokohkan keimanan dan menguatkan ketakwaan.

4. Keempat: Proses Sai antara dua bukit Shafa dan Marwah, adalah napak tilas peri kehidupan ibunda Nabi Ismail ketika mencari air untuk sang putera tercinta.

Sai bukan bentuk nostalgia “cengeng”
dengan sejarah, namun ibadah ini mendiktekan sebuah pelajaran kepada seoran muslim yang ingin menggapai tingginya cita-cita ; sikap gigih dan pantang menyerah dalam upaya merealisasikan citacita nam tinggi, yang selanjutnya disempurnakan dengan hiasan tawakkal kepada Allah subahanahu wata’ala.


Umroh Terbaik di Yogyakarta Bersama Jannah Firdaus 5 Pasti umrahnya :

Pasti Travelnya Berijin

Pasti Jadwalnya

Pasti Terbangnya

Pasti Hotelnya

Pasti Visanya

jannahfirdaus.co.id








Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.