Bekal-Bekal Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang paling mulia. Rahmat Allah senantiasa akan tercurahkan di dalamnya walaupun tanpa diharapkan. Namun demi meraihnya, seorang muslim harus mengarungi bulan ini dengan hati yang suci dan berbagai amalan saleh. Agar kita lebih semangat dalam menjalankan puasa dan amal-amal saleh yang menyertainya, Allah Ta’ala memotivasi kita semua dengan firman suci-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah : 183)

Dalam hadits-haditsnya, Rasulullah juga banyak memotivasi para sahabatnya tatkala Ramadhan telah mendekat, sebagaimana sabdanya: “Ramadhan telah mendatangi kalian, bulan yang penuh berkah, di dalamnya Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup, dan para pembesar setan dirantai, di dalamnya juga Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang dihalangi dari berbagai kebaikan di dalamnya maka ia telah diharamkan (dari mendapatkan kebaikan)”. (HR Nasai: 2106, shahih).

Karena tujuan utama puasa ini adalah mewujudkan hakikat taqwa maka sangat pantas bagi seorang muslim membekali diri dalam bulan mulia ini dengan beberapa perkara, di antaranya:

Mempelajari Hal-hal Terkait Ramadhan

Banyak di antara umat islam yang masih tidak peduli dengan hadirnya bulan yang mulia ini, bahkan tidak sedikit yang tidak mau kembali mengkaji ilmu dan persoalan agama terkait bulan Ramadhan beserta amalan puasa dan ibadah lainnya di dalamnya. Setidaknya hal ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu kejahilan terhadap fadhilah Ramadhan dan amal saleh di dalamnya, serta adanya hawa nafsu yang lebih cenderung menganggap remeh keberadaan dan kemuliaan bulan ini.

Oleh karena itu, dalam diri setiap muslim perlu ditanamkan ilmu dan kesadaran akan kemuliaan dan keutamaan bulan ini, beserta urgennya amalan saleh yang dikerjakan di dalamnya, dan bahwasanya Islam telah menjadikan bulan ini sebagai bulan yang paling utama dan mulia di antara bulan-bulan lainnya, serta menjadikannya sebagai momen untuk mengevaluasi diri dan meningkatkan amal saleh. Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata: “Tidak ada bulan lain yang sebanding dengan Ramadhan, tiada satu umat pun yang diutamakan dengan adanya bulan ini selain umat Islam, di dalamnya dosa-dosa terampuni, usaha ibadah terbalaskan… maka muliakanlah siang harinya dengan puasa, dan lewatilah malam-malamnya dengan panjangnya tangisan dan shalat, semoga kalian bisa meraih negeri yang kekal dan negeri keselamatan (surga) beserta memandang wajah Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, dan mendampingi Nabi shallallahu’alaihi wasallam”. (Bustaan Al-Waa’idzhiin: 215).

Menjadikan Sya’ban Sebagai Momen Latihan Puasa

Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban merupakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali dalam Ramadhan dan saya tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban”. (HR Bukhari: 1969, dan Muslim: 1156). Para ulama mengatakan bahwa diantara alasan beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah: untuk berlatih puasa sehingga terasa mudah menjalani puasa Ramadhan.

Puasa Sya’ban ini boleh dilakukan di seluruh bulan Sya’ban kecuali tanggal 30, karena hadits-hadits larangan puasa setelah pertengahan Sya’ban semuanya dhaif. Adapun larangan puasa tanggal 30 Sya’ban maka telah disebutkan dalam hadis shahih: “Janganlah seorang diantara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali jika seseorang telah terbiasa dengan puasanya, maka hendaknya ia berpuasa pada hari itu” . (HR Bukhari 1914).

Mempersiapkan Amal Saleh Terbaik dan Menjauhi Dosa

Allah Ta’ala menganjurkan umat Islam agar mereka membekali diri dengan banyak amal saleh dalam bulan Ramadhan ini, sehingga Dia pun mensyariatkan adanya shalat malam (tarawih dan witir) yang dikerjakan dalam malam-malam Ramadhan, termasuk pada Lailatul-Qadr, dan memotivasi mereka untuk melaksanakannya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.(HR Bukhari: 38, dan Muslim: 359). Juga bersabda: “Barangsiapa yang beribadah (shalat) pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah berlalu“. (HR. Bukhari, no. 1901).

Dianjurkan pula untuk mengerjakan amalan-amalan saleh lainnya, semisal: membaca Al-Quran, mengerjakan shalat-shalat sunat, membayar zakat, bersedekah, berzikir, berdoa, membantu orang lain, memberikan makan sahur dan berbuka, i’tikaf, dan ibadah-ibadah lainnya yang memiliki banyak fadhilah. Ibnul-Qayim rahimahullah berkata: “Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak amal ibadah… di dalamnya beliau memperbanyak sedekah, dan berbuat baik, bacaan Al-Quran, shalat, dzikir, dan i’tikaf, beliau senantiasa mengkhususkan Ramadhan dengan ibadah-ibadah yang ia tidak khususkan dalam bulan-bulan lainnya.” (Zaad al-Ma’aad: 2/30).

Sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan dari amalan-amalan dosa dan tercela sebagaimana dalam sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari: 1903). Beliau juga bersabda: “Puasa itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertengkar sambil berteriak.” (HR Bukhari: 1904 dan Muslim: 1151).

Akhlak yang dilarang dalam hadis ini sangat dilarang oleh islam baik di dalam atau di luar Ramadhan, namun larangan tersebut lebih dipertegas lagi bila berada dalam bulan Ramadhan. Adapun amalan dosa yang dilakukan di dalamnya, maka akan mengurangi pahala puasa, bahkan bisa saja menghapus semua pahala puasa, sebagaimana ucapan sebagian salaf bahwasaya ghibah (menggunjing) dalam bulan puasa bisa menghapus pahala puasa seseorang, sehingga puasanya seakan-akan batal karena tidak menghasilkan pahala apapun. (Lihat: Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 8887-8890).

Tentunya, seorang muslim mesti bertekad untuk menjadikan Ramadhan sebagai momen taubat dan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Bila masih ada maksiat yang biasa dilakukan, maka Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk berusaha sekuat hati meninggalkannya, dan kembali bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Merencanakan Ibadah Terbaik Di Akhir Ramadhan

Pada 10 hari terakhir bulan puasa, seorang muslim hendaknya meningkatkan aktifitas ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada saat ini adalah menghabiskan seluruh malamnya dengan munajat dan ibadah kepada Allah, serta mengerjakan ibadah i’tikaf, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa “dahulu beliau melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.” (HR Bukhari: 1928, dan Muslim: 1172). Juga “bahwa bila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali pinggangnya (untuk sungguh-sungguh beribadah), menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya (agar beribadah).” (HR Bukhari: 1920)

Marilah menjadikan Ramadhan kali ini sebagai peluang memperbaiki arah kehidupan kita yang buruk menjadi baik, dan yang baik menjadi lebih baik. Semoga kita semua dijadikan sebagai hamba yang tidaklah Ramadhan berlalu melainkan nama kita telah disebut sebagai nama yang dibebaskan dari api neraka, dosa-dosa kita telah terampuni, dan kita telah ditakdirkan sebagai penduduk surga. Aamiin.[]

Oleh Ustadz Maulana La Eda, Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah
Sumber dari: http://wahdah.or.id/bekal-bekal-ramadhan/

Tinggalkan Balasan